Rabu, 27 Februari 2013

Handout materi ajar


Handout Materi ajar
     Peristiwa Penting Menjelang Proklamasi Hingga Proklamasi Kemerdekaan

Peristiwa Rengasdengklok.
Berita mengenai kekalahan Jepang dalam perang Dunia II mulai tersebar di kalangan para pemuda indonesia. Para pemuda menganggap bahwa saat itu merupakan waktu yang tepat untuk memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun Ir. Soekarno dan Moh.Hatta tidak setuju dengan rencana para pemuda . Ir.Soekarno dan Moh.Hatta khawatir dengan reaksi jepang yang dapat menyebabkan terjadinya pertumpahan darah. Adanya perbedaan sikap tersebut akhirnya muncul peristiwa rengasdengklok.
Golongan tua adalah para anggota PPKI Yaitu Soekarno, Moh.Hatta, Ahmad Subarjo, Iwa Kusuma Sumantri, Buntaran dan Samsi. Mereka berpandangan bahwa tanggal proklamasi kemerdekaan indonesia disesuaikan dengan ketentuan yang ditetapkan pemerintah jepang, yakni tanggal 24 Agustus 1945. Mereka tidak berani melanggar ketentuan itu karena khawatir akan terjadi pertumpahan darah. Meskipun telah kalah dalam perang,tetapi kekuatan militer jepang di indonesia masih sangat tangguh. Golongan muda adalah kalangan muda yang terdiri dari para mahasiswa dan anggota Peta seperti sutan syahrir, Chairul Saleh,Djihar Nur,Subadio,Subianto,kusnandar,Margono,Wikana dan Armansyah. Mereka memiliki sikap radikal mengenal proklamasi kemerdekaan indonesia. Menurut mereka proklamasi kemerdekaan indonesia adalah hak rakyat indonesia sendiri dan harus lepas dari pengaruh pihak lain, termasuk jepang. Oleh karena itu, proklamasi kemerdekaan indonesia harus dilaksanakan di luarPPKI yang merupakan bentukan jepang.
Sikap golongan muda tersebut disepakati secara bulat dala rapat disalah satu ruang lembaga Bakteoriologi di jalan pegangsaan timur no. 13,Jakarta. Rapat itu dilaksanakan pada tanggal 15 agustus 1945 yang dipimpin oleh Chairul Saleh. Keputusan rapat tersebut antara lain sepakat menolak segala bentuk hadiah kemerdekaan dari jepang, sepakat bahwa kemerdekaan itu  adalah hak dan persoalan rakyat indonesia sendiri yang tidak tergantung pada bangsa lain termasuk jepang dan harus segera memproklamasikan kemerdekaan, meminta Ir. Soekarno dan Moh.Hatta untuk memutuskan hubungan dengan jepang, serta mengirim Wikana dan Darwis untuk menyampaikan gasil rapat kepada Ir.Soekarno dan Moh.Hatta, Rapat itu kemudian memutuskan untuk mendesak Soekarno-Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Wikana dan Darwis kemudian ke rumah Ir. Soekarno dan menyampaikan hasil keputusan rapat dan mendesak agar proklamasi kemerdekaan indonesia dinyatakan pada keesokan harinya tanggal 16 Agustus 1945. Setelah berunding dengan para tokoh nasionalis Ir.Soekarno menyatakan tidak dapat memenuhi permintaan para pemuda dan menyatakan bahwa tanggal 16 Agustus sudah direncanakan akan diadakan siding PPKI yang akan membahas Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Menjelang tanggal 16 agustus 1945, pada waktu tengah malam para pemuda kembali mengadakan rapat di asrama Baperpi (Badan Permusyawaratan Pemuda Indonesia) di Jln.Cikini No.7 Jakarta Rapat memutuskan untuk mengamankan Ir.Soekarno dan Moh.Hatta ke luar Jakarta. Tempat yang dipilih  untuk mengamankan Ir.Soekarno dan Moh.Hatta adalah Rengasdengklok. Rengasdengklok terletak 15 km dari jalan raya Jakarta-Cirebon. Selain itu, antara daidan (Batalion) peta Jakarta dan Rengasdengklok berlatih bersama. Dari pertimbangan tersebut, maka setiap gerakan pasukan jepang yang akan ke rengasdengklok dari beberapa penjuru dengan cepat dapat diketahui dan dihadang dengan kekuatan militer yang cukup. Ir. Soekarno dijemput chairul saleh dan Muwardi, sedangkan Moh.Hatta dijemput oleh Sukarni dan Jusup kunto. Rombongan berangkat ke rengasdengklok dan dikawaloleh pasukan peta dibawah pimpinan Shodanco Singgih.
Setelah sampai di rengasdengklok Ir.Soekarno dan Moh.Hatta ditempatkan dirumah milik warga masyarakat Tionghoa yang bernama Jo ki Song. Golongan muda mendesak kembali agar Ir. Soekarno bersedia memproklamasikan kemerdekaan indonesia , namun pembicaraan tersebut tidak membawa hasil. Akan tetap ,dalam pembicaraan pribadi antara Ir.Soekarno dan Shodanco Singgih, Shodanco Singgih menyimpulkan bahwa Ir.Soekarno bersedia memproklamasikan kemerdekaan indonesia segera setelah kembali ke Jakarta. Kesediaan Ir. Soekarno tersebut disampaikan kepada golongan muda di Jakarta.
 Sementara itu, antara Mr.Ahmad Subarjo dan wikana terdapat kata sepakat bahwa proklamasi kemerdekaan harus dilakukan di Jakarta, dimana laksamana Maeda bersedia dan menjamin keselamatan selama mereka berada dirumahnya. Oleh karena itu , yusuf kunto hari itu juga  membawa Mr. Ahmad Subarjo bersama Sudiro ke rengasdengklok untuk menjemput Soekarno dan Hatta. Ir.Soekarno dan Drs Moh.Hatta kemudian kembali ke Jakarta. Sekitar pikul 23.00 WIB, rombongan tiba di Jakarta. Ir.Soekarno dan Moh.Hatta sebelum mulsi merumuskan teks proklamasi trlebih dahulu menemui Mayjen, Nishimura untuk berunding. Mereka ditemani oleh Laksamana Maeda,Shigetada Nishijima dan Tomegoro Yoshizumi serta Miyoshi sebagai penerjemah. Namun , pada pertemuan tersebut tidak dicapai kata sepakat. Akhirnya Ir.Soekarno dan Moh.Hatta menyimpulkan bahwa tidak ada gunanya membicarakan masalah kemerdekaan dengan jepang.
Perumusan Teks Proklamasi dan Proklamasi Kemerdekaan.
Atas kontak baik antara Ahmad Subarjo dan Laksamana Maeda (Kepala Perwakilan Angkatan Laut Jepang di Jakarta). Yang sangat simpati terhadap perjuangan Bangsa Indonesia, maka Laksamana Maeda memperbolehkan tempat kediamanya di jalan imam Bonjol No. 1 Jakarta Pusat untuk menyelenggarakan rapat perumusan teks Proklamasi dengan memberikan jaminan keamanan terhadap kemungkinan serangan Angkatan Darat Jepang. Ditempat inilah naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia disusun.
Dengan bantuan Moh.Hatta dan Ahmad Subarjo , Ir.Soekarno menyiapkan teks yang ditulis tangan dengan pensil dengan judul “Maklumat Kemerdekaan”. Kemudian atas usul Iwa Kusuma Sumantri kata maklumat diganti dengan istilah proklamasi sehingga berbunyi “Proklamasi Kemerdekaan”. Keseluruhan rumusan teks proklamasi kemerdekaan indonesia terdiri atas dua bagian. Bagian pertama merupakan saran Ahmad Subarjo yang diambil dari rumusan Pancasila dan bagian kedua merupakan buah pikir dari Moh.Hatta.
Menjelang pagi pada tanggal 17 Agustus 1945 teks proklamasi berhasil dirumuskan oleh Ir.Soekarno, Drs. Moh.Hatta dan Mr. Ahmad Subarjo  yang disaksikan oleh Sukarni, Sayuti Melik, B.M.Diah dan Sudiro. Naskah yang ditulis tangan oleh Ir.Soekarno dibacakan dihadapan peserta rapat diruang depan dan setelah mendapat persetujuan isi serta siapa saja yang menandatangani , teks tersebut kemudian diketik oleh Sayuti Melik dengan beberapa perubahan yang kemudian ditandatangani oleh Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia. Konsep naskah proklamasi itu diketik oleh sayuti Melik dengan perubahan kecil yang telah disetujui. Perubahan tersebut yaitu tulisan “tempoh” diganti menjadi “tempo”, tulisan “wakil-wakil bangsa Indonesia” diganti menjadi “atas nama bangsa Indonesia”, dan tulisan “Djakarta, 17-8-‘5” diganti menjadi “Djakarta hari 17 boelan 8 tahoen ‘05”.
Dini hari tanggal 17 agustus 1945, naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia selesai dirumuskan. Langkah selanjutnya adalah membacakan lalu menyebarluaskan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Menjelang pembacaan teks proklamasi, massa telah memadati halaman rumah Soekarno. Keamanan di tempat itu dijaga oleh passukan Peta di bawah pimpinan Shodanco Latief Hendraningrat dan Shodanco Arifin Abdurrahman. Persiapan upacara dipimpin oleh Suwiryo yang pada waktu itu walikota Jakarta. Persiapan untuk upacara dilakukan serba spontan.
Lima menit sebelum acara dimulai oleh Moh. Hatta datang kemudian Latief Hendraningrat memberikan aba-aba agar semua peserta berdiri tegak dengan sikap sempurna. Sebelum membacakan teks proklamasi, Soekarno mengucapkan pidato pendahuluan singkat yang intinya sebagai berikut:
Meski mengalami pasang surut, perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaan tidak pernah berhenti.
Dengan tenaga dan kekuatan sendiri, bangsa Indonesia bertekat bulat menentukan nasib bangsa dan tanah airnya.
Setelah pembacaan teks proklamasi selesai, acara dilanjutkan dengan pengibaran bendera Merah Putih. Pengibaran itu dilaksanakan oleh Suhud dan Latief Hendraningrat dan diiringi lagu Indonesia Raya. Selesai pengibaran bendera acara dilanjutkan dengan pidato dari Suwiryo dan dr. Muwardi. Upacara Proklamassi Kemerdekaan Indonesia hanya berlangsung sekitar satu jam. Meskipun singkat dan sederhana peristiwa itu telah membawa perubahan yang luar biasa bagi bangsa Indonesia.


















DAFTAR PUSTAKA

Ricklefs, M.C. 2010. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta
Poesponegoro, Marwati Djoenet.1992. Sejarah Nasional Indonesia Jilid 6. Jakarta:Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,Balai Pustaka.